Sabtu, 04 Februari 2012

Yang Patut direnungkan

 
Yang Singkat Itu "WAKTU".
Yang Menipu Itu "DUNIA".
Yang Dekat Itu "KEMATIAN".
Yang Besar Itu "HAWA NAFSU".
Yang Berat Itu "AMANAH"
Yang Sulit Itu "IKHLAS".
Yang Mudah Itu "BERBUAT DOSA".
Yang Susah Itu "SABAR".
Yang Sering Lupa Itu "BERSYUKUR".
Yang Membakar Amal Itu "MENGUMPAT [GHIBAH]".
Yang Mendorong Ke Neraka Itu "LIDAH".
Yang Berharga Itu "IMAN".
Yang Menenteramkan Hati Itu "TEMAN SEJATI".
Yang Ditunggu Allah Ta'alla. ? Itu "TAUBAT”.

-- IMAM GHAZALI --




https://www.facebook.com/ipa.sukaraja/posts/133518643435805

#. Kepintaran seseorang bukan diukur dari berapa banyak piala yang didapatkan, melainkan dari seberapa  
    banyak ilmu yang dibagikannya
#. Kenali kesalahan-kesalahan kita dan belajarlah darinya, namun jangan pernah berkutat di dalamnya
#. Milikilah jiwa yang besar untuk mengakui kesalahan dan bersikaplah bijak untuk mengambil hikmah dari 
    kesalahan yang telah kita lakukan, serta jadilah kuat untuk memperbaiki kesalahan itu

Sabtu, 28 Januari 2012

Wawasan Wiyata Mandala



Dengan memperhatikan kondisi sekolah dan masyarakat dewasa ini yang umumnya masih dalam taraf perkembangan, maka upaya pembinaan kesiswaan perlu diselenggarakan untuk menunjang perwujudan sekolah sebagai Wawasan Wiyatamandala.
Berdasarkan surat Direktur Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah nomor: 13090/CI.84 tanggal 1 Oktober 1984 perihal Wawasan Wiyatamandala sebagai sarana ketahanan sekolah, maka dalam rangka usaha meningkatkan pembinaan ketahanan sekolah bagi sekolah-sekolah di lingkungan pembinaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen pendidikan dan kebudayaan, mengeterapkan Wawasan Wiyatamandala yang merupakan konsepsi yang mengandung anggapan-anggapan sebagai berikut:
  • Sekolah merupakan wiyatamandala (lingkungan pendidikan) sehingga tidak boleh digunakan untuk tujuan-tujuan diluar bidang pendidikan.
  • Kepala sekolah mempunyai wewenang dan tanggung jawab penuh untuk menyelenggarakan seluruh proses pendidikan dalam lingkungan sekolahnya, yang harus berdasarkan Pancasila dan bertujuan untuk:
    1. meningkatkan ketakwaan teradap Tuhan yang maha Esa,
    2. meningkatkan kecerdasan dan keterampilan,
    3. mempertinggi budi pekerti,
    4. memperkuat kepribadian,
    5. mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air.
  • Antara guru dengan orang tua siswa harus ada saling pengertian dan kerjasama yang baik untuk mengemban tugas pendidikan.
  • Para guru, di dalam maupun di luar lingkungan sekolah, harus senantiasa menjunjung tinggi martabat dan citra guru sebagai manusia yang dapat digugu (dipercaya) dan ditiru, betapapun sulitnya keadaan yang melingkunginya.
  • Sekolah harus bertumpu pada masyarakat sekitarnya, namun harus mencegah masuknya sikap dan perbuatan yang sadar atau tidak, dapat menimbulkan pertientangan antara kita sama kita.
Untuk mengimplementasikan Wawasan Wiyatamandala perlu diciptakan suatu situasi di mana siswa dapat menikmati suasana yang harmonis dan menimbulkan kecintaan terhadap sekolahnya, sehingga proses belajar mengajar, kegiatan kokurikuler, dan ekstrakurikuler dapat berlangsung dengan mantap.
Upaya untuk mewujudkan Wawasan Wiyatamandala antara lain dengan menciptakan sekolah sebagai masyarakat belajar, pembinaan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), kegiatan kurikuler, ko-kurikuler, dan ekstra-kurikuler, serta menciptakan suatu kondisi kemampuan dan ketangguhan yakni memiliki tingkat keamanan, kebersihan, ketertiban, keindahan, dan kekeluargaan yang mantap